SCRIPT IKLAN SOBAT

Sabtu, 21 Februari 2015

MAKALAH TENTANG KONSEP EVALUASI / PENILAIAN (ASESMEN)

 KONSEP EVALUASI / PENILAIAN (ASESMEN)
A.    EVALUASI
1.      Definisi Evaluasi
a. Menurut Edwind Wandt dan Gerald W. Brown (1977), evaluation refer to the act or process to determining the value of something. Dari definisi tersebut, maka istilah evaluasi ini menunjuk kepada atau mengandung pengertian: suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu (Sudijono, 2011: 1).
b. Menurut Stufflebeam dkk (1971), evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan (Daryanto, 2008: 2).
c. Menurut Ralph Tailor (1950), evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai (Arikunto, 2010: 3).

d. Menurut Suharsimi Arikunto (2004: 1), evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan.

2.      Tujuan dan fungsi evaluasi pendidikan
Adapun tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan menurut Sudijono (2011:
16) adalah:
a.       Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
b.      Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
Sedangkan fungsi evaluasi pendidikan menurut Arikunto (2010) adalah:
a.        Berfungsi selektif. Dengan mengadakan evaluasi, guru dapat melakukan seleksi atau penilaian terhadap siswanya.
b.      Berfungsi diagnostik. Dengan mengadakan evaluasi, guru dapat melakukan dignosis tentang kebaikan dan kelemahan siswanya.
c.       Berfungsi sebagai penempatan. Dengan mengadakan evaluasi, guru dapat menempatkan siswa sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
d.      Berfungsi sebagai pengukur keberhasilan. Dengan mengadakan evaluasi, guru dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan suatu program yang telah diterapkan.
3.      Karakteristik Evaluasi dalam Pendidikan
Beberapa karakteristik evaluasi dalam pendidikan menurut Arikunto (2010)
adalah:
a.       Dilakukan secara tidak langsung. Contohnya, mengukur kepandaian peserta didik melalui ukuran kemampuannya dalam menyelesaikan soalsoal.
b.      Penggunaan ukuran kuantitatif. Menggunakan simbol bilangan sebagai hasil pertama pengukuran, setelah itu baru diinterpretasikan ke bentuk kualitatif.
c.       Menggunakan unit-unit atau satuan-satuan yang tetap.
d.      Bersifat relatif, berarti tidak sama atau tidak selalu tetap dari waktu ke waktu yang lain.
e.       Sering terjadi kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan tersebut dapat terjadi karena terletak pada alat ukurnya, orang yang melakukan evaluasi, peserta didik yang dievaluasi, dan situasi pada saat dilakukan evaluasi.
4.      Prinsip – prinsip evaluasi dalam pendidikan
Menurut Arikunto (2010: 24) ada satu prinsip umum dan penting dalam kegiatan evaluasi yaitu adanya triangulasi:
a.       Tujuan pembelajaran
b.      Kegiatan pembelajaran atau KBM
c.       Evaluasi
5.      Objek dan Subjek Evaluasi Pendidikan
Objek atau sasaran evaluasi pendidikan adalah segala sesuatu yang
berhubungan dengan kegiatan atau proses pendidikan, yang dijadikan titik
pusat perhatian atau pengamatan, karena pihak penilai (evaluator) ingin
memperoleh informasi tentang kegiatan atau proses pendidikan tersebut.
Dalam UU No. 20 tahun 2003 pasal 57 ayat 2 menyatakan bahwa evaluasi
dilakukan terhadap peserta didik, lembaga, dan program pendidikan pada jalur
formal dan nonformal untuk semua jenjang, satuan, dan jenis pendidikan.
Sedangkan, subjek evaluasi pendidikan adalah orang yang melakukan evaluasi
dalam bidang pendidikan. Menurut Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005
pasal 78 dinyatakan bahwa evaluasi pendidikan meliputi:
1. Evaluasi kinerja pendidikan yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan kepada pihakpihak yang berkepentingan;
2. Evaluasi kinerja pendidikan oleh Pemerintah;
3. Evaluasi kinerja pendidikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi;
4. Evaluasi kinerja pendidikan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; dan
5. Evaluasi oleh lembaga evaluasi mandiri yang dibentuk masyarakat atau
organisasi profesi untuk menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.

6.      Pengertian Penilaian di SD
Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester yang diuraikan sebagai berikut.
a.    Penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai aspek sikap, pengetahuan, keterampilan mulai dari masukan (input), proses, sampai keluaran (output) pembelajaran. Penilaian otentik bersifat alami, apa adanya, tidak dalam suasana tertekan.
b.    Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan.
c.    Penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas dalam kurun waktu tertentu.
d.    Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik.
e.    Ulangan harian merupakan proses kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi secara periodik untuk menilai kompetensi peserta didik.
f.     Ulangan tengah semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran.
g.    Ulangan akhir semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester.
Penilaian dilakukan secara holistik meliputi aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan untuk setiap jenjang pendidikan, baik selama pembelajaran berlangsung (penilaian proses) maupun setelah pembelajaran usai dilaksanakan (penilaian hasil belajar). Pada jenjang pendidikan dasar, proporsi pembinaan karakter lebih diutamakan dari pada proporsi pembinaan akademik.

7.      Jenis-jenis Asesmen
a.       Asesmen diagnostik
Yaitu asesmen yang bertujuan untuk mencari sebab-sebab kesuitan belajar peserta didik, seperti latar belakang psikologis, fisik dan lingkungan sosial ekonomi peserta didik.
b.      Asesmen formatif
Yaitu asesmen yang digunakan untuk mencari umpan balik guna memperbaiki proses belajar mengajar bagi guru maupun peserta didik.
c.       asesmen sumatif
Yaitu asesmen yang digunakan untuk mengukur atau menilai sampai di mana pencapaian peserta didik terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan, dan selanjutnya untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan peserta didik yang bersangkutan.
d.        asesmen placemen
Yaitu asesmen yang dignakan untuk penentuan penempatan peserta didik  dalam suatu jenjang atau atau jenis program pendidikan tertentu.
8.      Ranah asesmen
Boleh dikatakan semua matapelajaran mengandung unsur kognitif dan afektif, banyak yang mengandung unsur psikomotor atau keterampilan. Taksonomi bloom cs mengenai tujuan-tujuan pendidikan ranah pendidikan (domain) kognitif, afektif, dan psikomotor telah cukup terkenal dan dijadikan pegangan dalam merumuskan tujuan-tujuan pelajaran. Di bawah ini aka kita bicarakan ketiga ranah itu.      
1.         Ranah kognitif
Cara-cara pelaksanaan asesmen dalam  ranah kognitif dapat dibagi atas 6 bagian yaitu mempergunakan tes tertulis atau tes pensil dan kertas, mepergunakan observasi guru atas kinerja murid, mempergunakan tes gambar-gambar yang dibubuhi/ kata-kata, mempergunakan jurnal murid-murid, mempergunakan peta konsep dan yang penting tidak umum dilakukan tetapi ada baiknya dicoba pertopolio. Selanjutnya akan dibahas cara-cara tesebut satu demi satu.
Cara yang paling umum untuk mengetahui prestasi murid sesudah proses pembelajaran adalah dengan tes tertulis atau pensil dan kertas. Meskipun aspek pengetahuan dalam ranah kognitif merupakan aspek yang paling penting mendapatkan penekanan, sering kali penyusun tes tertulis yang baik untuk aspek ini mempunyai kesulitan tersendiri, oleh karena itu jika disini dibahas dahulu oleh murid. Sebagai langkah pertama hendaknya ditentukan tujuan khusus kemudian disusun bentuk tes. Bentuk tes dapat berupa pertayaan sederhana yang memerlukan jawaban sederhana atau yang agak rumit berbentuk pilihan ganda.
2.         Ranah afektif
Renah kognitif meliputi pengetahuan dan pemahaman secara intelektual. Menurut Bloom ranah afektif mencakup perasaan, emosi, minat, sikap, nilai dan apresiasi. Hal ini erat hubungannya dengan perasaan murid anda terhadap pelajaran IPA dan bagaimana perasaan ini mempengaruhi prestasi belajar mereka. Sampai saat ini pendidikan IPA hanya sedikit hampir-hampir tidak memberi perhatian kepada masalah-masalah perasaan murid. Sekarang pakar-pakar pendidikan IPA mulai melihat pentingnya murid mempunyai sikaf positif dan mempunyai sistem nilai sementara mereka mempelajari pengetahuan dan proses IPA.
   Cara yang terbaik untuk menilai sikap dan prasaan mereka adalah mengamati secara langsung pada waktu mereka bekerja atau pada waktu mereka bermain dengan sesama murid, dan tidak hanya ketika anda mengajar.
3.         Ranah psikomotor
Ranah psikomotor menekankan keterampilan-keterampilan motorik atau keterampilan menangani benda-benda atau alat-alat pada waktu melakukan kegiatan IPA. Untuk ranah psikomotor anda dapat membuat bagan untuk mengkelsivasikan tujuan pembelajaran dalam ranah psikomotor untuk murid-murid anda sebab anda mempunyai banyak kesempatan untuk mengamati keterampilan murid-murid anda dalam menangani alat-alat atau benda-benda percobaan. Agar assesment anda obyektif, spacifik dan dapat dinikmati, sebaiknya anda membuat daftar pengamatan kinerja murid dan skal penilain. Contoh yang diberikan adalah pengamatan kinerja murid-murid murid kelas 5&6 dalam menegani microskop dalam praktikum biologi  
Tujuan tingkah laku pembelajaran
selalu
kadang
Tak pernah
Berhati-hati mengenai mikroskop
Membersihkan lensa dengan benar
Memfokuskan lensa dengan benar
Menyediakan dan meletakan silinder dengan benar.
Mengatur kaca agar mendapat sinar dengan tepat.



Gambar : skala penilaian dan ceklis untuk penggunaan mikroskop
Perhatikan penggunaan kata-kata dalam tujuan tingkah laku spesifik dan dapat diamati misalnya membersihkan lensa hanya dengan kertas tisu atau katun yang bersih. Kertas tisu khusus untuk lensa yang boleh dipake, atau menyediakan slide mempunyai teknik tersendiri misalnya benda-benda kecil harus ditutup dengan slip, dan sebagainya.














MAKALAH TENTANG TEORI PIAGET DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN IPA SD

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Teori Piaget dan Penerapannya dalam Pembelajaran IPA SD. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Dr. H. Yudo Dwiyono, M.Si yang sudah memberikan bimbingan dalam penyusunan tugas ini.
            Melalui tugas ini kami berharap pembaca dapat memahami teori Piaget serta penerapannya dalam pembelajaran IPA di Sekolah Dasar. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan tugas ini, oleh karena itu penulis mengaharapkan saran, komentar, kritik atau masukan lainnya demi penyempurnaan tugas ini.

Samarinda, 26 September 2014


Tim Penyusun

            
TEORI PIAGET DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN IPA SD

A.TEORI PIAGET

            Menurut Piaget dalam Belajar dan Pembelajaran (C. Asri Budiningsih 2005: 36), proses belajar seseorang akan mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan sesuai dengan umurnya. Pola dan tahap-tahap ini bersifat hirarkhis, artinya harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan seseorang tidak dapat belajar sesuatu yang berada diluar tahap kognitifnya. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat. Keempat tahap dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Tahap sensorimotor : umur 0 – 2 tahun.
(Ciri pokok perkembangannya anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek)
            Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana. Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dan dilakukan langkah demi langkah. Kemampuan yang dimilikinya antara lain:
1) Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan objek disekitarnya.
2) Mencari rangsangan melalui sinar lampu dan suara.
3) Suka memperhatikan 0qsesuatu lebih lama.
4) Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya.
5) Memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.
Contoh: anak mengetahui bahwa benda bersinar yang tergantung diatasnya adalah lampu. Bila kita menunjukkan bulan kepadanya, anak akan mengatakan bahwa bulan adalah lampu.
            Piaget membagi tahap sensorimotor dalam enam periode yaitu:

1. Periode 1 : Refleks (umur 0 – 1 bulan)
            Periode paling awal tahap sensorimotor adalah periode refleks. Ini berkembang sejak bayi lahir sampai sekitar berumur 1 bulan. Pada periode ini, tingkah laku bayi kebanyakan bersifat refleks, spontan, tidak disengaja dan tidak terbedakan. Tindakan seorang bayi didasarkan pada adanya rangsangan dari luar yang ditanggapi secara refleks.
2. Periode 2 : Kebiasaan (umur 1 – 4 bulan)
            Pada periode perkembangan ini, bayi mulai membentuk kebiasaan-kebiasaan pertama. Kebiasaan dibuat dengan mencoba-coba dan mengulang-ngulang suatu tindakan. Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan benda-benda di dekatnya. Pada periode ini pula, koordinasi tindakan bayi mulai berkembang dengan penggunaan mata dan telinga. Bayi mulai mengikuti benda  yang bergerak dengan matanya. Ia juga mulai menggerakkan kepala kesumber suara yang ia dengar. Suara dan penglihatan bekerja bersama. Ini merupakan suatu tahap penting untuk menumbuhkan konsep benda
3. Periode 3 : Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)
            Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada di sekitarnya.  Tingkah laku bayi semakin berorientasi pada objek dan kejadian di luar tubuhnya sendiri. Ia menunjukkan koordinasi antara penglihatan dan rasa jamah. Pada periode ini, seorang bayi juga menciptakan kembali kejadian-kejadian yang menarik baginya. Ia mencoba menghadirkan dan mengulang kembali peristiwa yang menyenangkan diri.
4. Periode 4 : Koordinasi Skemata (umur 8 – 12 bulan)
            Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya. Ia sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan atau hasil diperoleh dari koordinasi skema-skema yang telah ia ketahui. Bayi mulai mempunyai kemampuan untuk menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah diperoleh untuk mencapai tujuan tertentu. Pada periode ini, seorang bayi mulai membentuk konsep tentang tetapnya (permanensi) suatu benda. Dari kenyataan bahwa dari seorang bayi dapat mencari benda yang tersembunyi, tampak bahwa ini mulai mempunyai konsep tentang ruang.
5. Periode 5 : Eksperimen (umur 12 – 18 bulan)
            Unsur pokok pada perode ini adalah mulainya anak memperkembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan cara mencoba-coba (eksperimen). Pada periode ini, anak lebih mengamati benda-benda disekitarnya dan mengamati bagaimana benda-benda di sekitarnya bertingkah laku dalam situasi yang baru.  
6. Periode Refresentasi (umur 18 – 24 bulan)
            Secara mental, seorang anak mulai dapat menggambarkan suatu benda dan kejadian, dan dapat menyelesaikan suatu persoalan dengan gambaran tersebut. Konsep benda pada tahap ini sudah maju, refresentasi ini membiarkan anak untuk mencari dan menemukan objek-objek yang tersembunyi. Sedangkan konsep keruangan, anak mulai sadar akan gerakan suatu benda sehingga dapat mencarinya secara masuk akal bila benda itu tidak kelihatan lagi. Karakteristik anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a) Berfikir melalui perbuatan (gerak)
b) Perkembangan fisik yang dapat diamati adalah gerak-gerak refleks sampai ia dapat berjalan dan bicara.
c) Belajar mengkoordinasi akal dan geraknya.
d) Cenderung intuitif egosentris, tidak rasional dan tidak logis.

b. Tahap Pra operasional : umur 2 -7 tahun.
(Ciri pokok perkembangannya adalah penggunaan symbol/bahasa tanda dan konsep intuitif)
            Pada tahap ini, penggunaan simbol dan istilah jauh lebih luas ketimbang pada tahap sensorik motorik. Pola pikir bersifat insting, yaitu ia belum mampu menalar dengan menggunakan hukum logika sebab akibat. Ia mengetahui tepat nama dan apa yang dapat dilakukan terhadap sesuatu objek, tetapi ia tidak mengetahui klasifikasi objek.
Contohnya, pada hal yang berhubungan dengan bola ia mengetahui tepat cara memainkan bola, melempar, memantulkan, menagkap, dan seterusnya. Namun, ia tidak mengetahui bahwa bola tersebut merupakan alat olahraga, melainkan menggapnya sebagai mainan.
Tahap pra operasional ini dapat dibedakan atas dua bagian.
1) tahap pra konseptual (2-4 tahun), dimana representasi suatu objek dinyatakan dengan bahasa, gambar dan permainan khayalan.
2) tahap intuitif (4-7 tahun). Pada tahap ini representasi suatu objek didasarkan pada persepsi pengalaman sendiri, tidak kepada penalaran.
Karakteristik anak pada tahap ini adalah sebagai berikut:
a) Anak dapat mengaitkan pengalaman yang ada di lingkungan bermainnya dengan pengalaman pribadinya, dan karenanya ia menjadi egois. Anak tidak rela bila barang miliknya dipegang oleh orang lain.
b) Anak belum memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang membutuhkan pemikiran “yang dapat dibalik (reversible).” Pikiran mereka masih bersifat irreversible.
c) Anak belum mampu melihat dua aspek dari satu objek atau situasi sekaligus, dan belum mampu bernalar (reasoning) secara individu dan deduktif.
d) Anak juga belum mampu membedakan antara fakta dan fantasi. Kadang-kadang anak seperti berbohong. Ini terjadi karena anak belum mampu memisahkan kejadian sebenarnya dengan imajinasi mereka.
e) Anak belum memiliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat dan isi).
f) Menjelang akhir tahap ini, anak mampu memberi alasan mengenai apa yang mereka percayai. Anak dapat mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok yang hanya mempunyai satu sifat tertentu dan telah mulai mengerti konsep yang konkrit.



c. Tahap operasional konkret : umur 7 – 11 tahun.
(Ciri pokok perkembangannya anak mulai berpikir secara logis tentang kejadian-kejadian konkret)
            Pola pikir egosentris digantikan dengan pola pikir operasional yang mengacu pada suatu perbuatan terhadap berbagi benda dan peristiwa berdasarkan informasi yang luas dari luar dirinya. Secara konseptual, anak mulai mampu melihat dan mempersepsi berbagai hal dari perspektif orang lain. Proses berpikirnya mulai logis. Anak mampu membuat susunan serial, menyusun, dan mengelompokkan berbagia hal berdasarkan karakteristiknya yang sama atau serupa.
Contohnya : alat olahraga adalah bola, kok, bola tenis, raket, dan lain-lain.
Ciri-ciri operasi konkret yang lain, yaitu:
a. Adaptasi dengan gambaran yang menyeluruh.
            Pada tahap ini, seorang anak mulai dapat menggambarkan secara menyeluruh ingatan, pengalaman dan objek yang dialami.
b. Bilangan
            Dalam percobaan Piaget, ternyata anak pada tahap praoperasi konkret belum dapat mengerti soal korespondensi satu-satu dan kekekalan, namun pada tahap tahap operasi konkret, anak sudah dapat mengerti soal korespondensi dan kekekalan dengan baik. Dengan perkembangan ini berarti konsep tentang bilangan bagi anak telah berkembang.
c. Seriasi
            Proses seriasi adalah proses mengatur unsur-unsur menurut semakin besar atau semakin kecilnya unsur-unsur tersebut. Menurut Piaget , bila seorang anak telah dapat membuat suatu seriasi maka ia tidak akan mengalami banyak kesulitaan untuk membuat seriasi selanjutnuya.
d. Ruang, waktu, dan kecepatan
            Pada umur 7 atau 8 tahun seorang anak sudah mengerti tentang urutan ruang dengan melihat interval jarak suatu benda. Pada umur 8 tahun anak sudah dapat mengerti relasi urutan waktu dan juga koordinasi dengan waktu, dan pada umur 10 atau 11 tahun, anak sadar akan konsep waktu dan kecepatan.
e. Penalaran
            Dalam pembicaraan sehari-hari, anak pada tahap ini jarang berbicara dengan suatu alasan,tetapi lebih mengatakan apa yang terjadi. Pada tahap ini, menurut Piaget masih ada kesulitan dalam melihat persoalan secara menyeluruh.
f.Sosialisme.
            Pada tahap ini, anak sudah tidak begitu egosentris dalam pemikirannya. Ia sadar bahwa orang lain dapat mempunyai pikiran lain.

d. Tahap operasi formal: umur 11 tahun ke atas.
(Ciri pokok perkembangannya adalah hipotesis, abstrak, dan logis)
            Tahap operasi formal (formal operations) merupakan tahap terakhir dalam perkembangan kognitif menurut Piaget. Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa
yang dapat diamati saat itu. Cara berpikir yang abstrak mulai dimengerti. Sifat pokok tahap operasi formal adalah pemikiran deduktif hipotesis dan metode ilmiah.

a. Pemikiran Deduktif Hipotesis
            Pemikiran deduktif adalah pemikiran menarik kesimpulan yang spesifik dari sesuatu yang umum. Kesimpulan benar hanya jika premis-premis yang dipakai dalam pengambilan keputusan benar. Alasan deduktif hipotesis adalah alasan/argumentasi yang berkaitan dengan kesimpulan yang ditarik dari premis-premis yang masih hipotetis. Jadi, seseorang yang mengambil kesimpulan dari suatu proposisi yang diasumsikan, tidak perlu berdasarkan dengan kenyataan yang real. Dalam pemikiran remaja, Piaget dapat mendeteksi adaanya pemikiran yang logis, meskipun para remaja sendiri pada kenyataannya tidak tahu atau belum menyadari bahwa cara berpikir mereka itu logis. Dengan kata  lain, model logis itu lebih merupakan hasil kesimpulan Piaget dalam menafsirkan ungkapan remaja, terlepas dari apakah para remaja sendiri  tahu atau tidak.

b. Metode Ilmiah
            . Pada tahap pemikiran ini, anak sudah mulai dapat membuat hipotesis, menentukan eksperimen, menentukan variabel control, mencatat hasi, dan menarik kesimpulan. Disamping itu mereka sudah dapat memikirkan sejumlah variabel yang berbeda pada waktu yang sama.


B.PENERAPAN TEORI PIAGET DALAM PEMBELAJARAN IPA SD

a)  Cara pembelajaran IPA di SD berdasarkan teori Piaget :

·         Guru harus selalu memperhatikan pada setiap siswa apa yang mereka lakukan, apakah mereka melaksanakan dengan benar, apakah mereka tidak mendapatkan kesulitan. 
·         Guru harus berbuat seperti apa yang Piaget perbuat yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan sendiri jawabannya, sedangkan guru harus selalu siap dengan alternatif jabawan bila sewaktu-waktu dibutuhkan.
·         Pada akhir pembelajaran, guru mengulas kembali bagaimana siswa dapat menemukan jawaban yang diinginkan.

b) Contoh penerapan teori Piaget dalam pembelajaran IPA SD

 Kelas / Semester         : V / 1
 Sumber                       : Buku Tematik Terpadu Kurikulum 2013
 Subtema                     : Wujud Benda dan Cirinya ( dalam pembelajaran 2 )
 Kompetensi Dasar      : Mendeskripsikan sifat-sifat benda padat, cair dan gas.
 Tujuan pembelajaran  : Dengan melakukan percobaan untuk menguji perubahan                                           wujud benda dengan sistematis dan penuh rasa ingin tahu                                         siswa dapat mengetahui dan menjelaskan wujud dan sifat                                        benda serta perubahan wujudnya dengan pemikiran logis                                         dengan cermat dan teliti.
 Deskripsi Kegiatan :
Kegiatan berdiskusi
    -   Siswa kemudian bekerja secara kelompok beranggotakan 4 orang.
-     Siswa mengamati beberapa jenis wujud benda yang telah mereka ketahui.
-     Siswa diminta berdiskusi dan menuliskan hasil pemahaman mereka tentang wujud benda, sifat benda dan memberikan contohnya, serta perubahan wujud benda.
Kegiatan eksplorasi
-     Siswa selanjutnya melakukan percobaan dengan beberapa petunjuk aktivitas yang telah diberikan. Siswa diperbolehkan bereksplorasi menggunakan bahan yang berbeda dan memberi perlakuan yang berbeda.
-     Siswa diminta mengamati proses dalam percobaan dan menulisnya dalam bentuk suatu laporan.
-     Siswa mempresentasikan hasil percobaan dan laporan mereka di depan kelas.
    •    Siswa diingatkan untuk bersikap hati-hati dan menjaga keselamatan diri dan teman-temannya selama kegiatan berlangsung.
 Hasil yang diharapkan :
Melalui kegiatan ini diharapkan:
      • Siswa diharapkan timbul sikap rasa ingin tahu dan terampil mencari                           informasi serta melakukan suatu pengamatan dan mencatat hasilnya secara sistematis.
  •   Siswa dapat bekerja sama dan berpikir secara saintifik dan dan sistematis                 dalam melakukan percobaan secara bertahap dan proses pengamatan mereka.
 •    Siswa dapat mencari dan mencatat hasil temuan mereka dalam laporan hasil
      Percobaan dengan teliti dan sistematis.

Hasil yang diharapkan :
Melalui kegiatan ini diharapkan:
•  Siswa diharapkan timbul sikap rasa ingin tahu dan terampil mencari informasi serta melakukan suatu pengamatan dan mencatat hasilnya secara sistematis.
•   Siswa dapat bekerja sama dan berpikir secara saintifik dan dan sistematis dalam melakukan percobaan secara bertahap dan proses pengamatan mereka.
•    Siswa dapat mencari dan mencatat hasil temuan mereka dalam laporan hasil percobaan dengan teliti dan sistematis.








DAFTAR PUSTAKA

Budiningsih, Asri. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta. Rineka Cipta, 2005.
Nurdin, A.E. Tumbuh Kembang Perilaku Manusia. Jakarta. EGC, 2011.
http://masbied.files.wordpress.com/2011/05/modul-matematika-teori-belajar-                      piaget.pdf
Yamin, Martinis. Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran. Jakarta.            Penerbit Referensi. 2013.